Bayar Pajak

So the story goes like this. Pada suatu siang, gara – gara terjebak kemacetan di daerah Soreang, akhirnya terjebak dalam antrian panjang di kantor pajak.

Duduk dikursi tunggu, dan terdampar di tautan ini: Besok, Pemerintah Lelang 6 Surat Utang Rp 30 Triliun

Tautan lawas, 2 bulanan yang lalu, tapi konteks-nya masih valid di bulan. Pajak.

Ini cuma analisis imajiner pribadi saja. Nyambung ga nyambung itu urusan nanti.

Pernah membaca:

Ketika suatu negara mengeluarkan surat hutang dengan tenor 10 tahun, 15 tahun, atau bahkan 30 tahun. Maka yang akan membayar (melalui pajak) adalah orang awam yang belum mengerti hutang negara itu apa. Terlebih dengan tenor yang panjang, ini akan menjadi beban orang – orang yang pada saat hutang itu dibuat mereka masih dalam bentuk “titit”. Bisa dibayangkan kesimpulannya?

Dan ya tentu saja ini bukan pertama kalinya. Maksudnya, saya sudah pernah sampai pada kesimpulan serupa untuk kasus yang berbeda: Mereka yang mencari nafkah, bertarung secara fisik dan psikis, ia “tersiksa”, ia “terluka”, sebagian kasus sampai game over. Ujung – ujungnya harus ikut bayarin setumpuk utang yang tak pernah ia mengerti bahkan ketahui.

Gelo!

Thank You. Mrs Enid Blyton

tumblr lzddarbe C71qagcjbo1 400
PINTU RAHASIA, menjelajah setiap sudut rumah, mengetuk dan menggeser – geser lemari, bersemangat melihat pantai (atau kolam ikan, hahahahha), berharap bisa keliling dunia persis petualangan lima sekawan. Back in 90’s. Thank you, Mrs Enid Blyton

Wiken Bukan Wiken Bukan Wiken

DUA bulan terakhir udah jarang banget bilang TGIF, Thank God It’s Friday. Karena udah ga kerasa bedanya wiken sama hari kerja. 5 hari kerja udah ga cukup lagi ngerjain tugas dsb dsb. Udah dipecut dengan tempelan catatan “first task” depan meja kerja (kalo boleh disebut meja kerja), tetep aja si deadline ini lajunya tertatih – tatih.

Untungnya sekarang mah udah ada yang menunggu di rumah dengan suka cita. Sekarang rumah benar – benar menjadi ‘tempat untuk pulang’. Alhamdulillah tiada putus.

It’s great to have a home. It is a home, not just a house. Because home is not a place, it’s in your heart, home that our feet may leave, but not our hearts. 

Makasih bu… 🙂

Bagaimana Menulis Di Blog

TERLEPAS DARI iuran tahunan yang sudah terlanjur dibayarkan . Menulis di blog ini sekarang rasa-rasanya semakin berat, alasannya klise:  Sibuk concern sama kerjaan (fakta di lapangannya adalah terlalu bodoh mengatur waktu aja sih sebenernya). Padahal banyak ingatan random di kepala yang ingin dikeluarkan. Takut tercecer dimana – mana lalu akhirnya terlupakan.

Kambinghitamkan-lah Instagram dan whatsapp dengan feature photo caption dan update status panjangnya. Merekalah biang dari semuanya.

Hehehe.

Corat Coret Di Warung Kopi

IMG 20180316 185809 HDR 01
2015, adalah tahun pertama saya kembali ke rumah, rumah dalam artian yang sebenarnya. Langsung mencari satu tempat enak untuk menyelesaikan bermacam – macam urusan, warung kopi.

Ditempat yang dipenuhi wangi – wangi biji kopi, lagu – lagu, gelas kecil yang gampang kosong, asbak yang kepenuhan, selalu bisa berbicara: Kamu bisa menunda untuk berubah karena banyaknya urusan, tapi hidup tidak pernah menunda urusan – urusannya.

Warung kopi juga seringkali, bisa jadi tempat saya berhenti mengambil jeda dan merefleksi diri: Apakah benar kamu sudah berubah? Apakah kamu telah yakin dengan, atau terhadap sesuatu? Atau kamu ter-yakin-kan hanya karena sesuatu itu telah dilabeli “baik” oleh keadaan? Oleh para ‘kritikus’? Apakah kamu berani bertanggung jawab atas penilaianmu itu? Apakah kamu tidak sedang terkungkung oleh dunia yang sekarang hampir semuanya berbicara tentang “Image”?

Btw, baru – baru ini saya sering membawa serta Paria-nya Mulk Raj Anand ke warung kopi. Jika ada buku yang ingin dibaca oleh seseorang yang sedang mencari cara agar lebih pandai bersyukur 1. Mungkin inilah salah satu buku itu.

b972b19a1738002b49beeb141a832308

“Dia terlihat sebagai anak paria tulen dari koloni yang tidak memiliki parit, lampu ataupun air; Anak dari rawa di mana orang – orang bermukim di antara kakus – kakus orang kota dan ditengah – tengah tahi mereka sendiri, yang berserakan di sana, di sini, di mana – mana. Anak dari sebuah dunia dimana siang adalah gelap, dan malam adalah gelap yang pekat.”

Membaca Bakha, melihat – lihat produk budaya lain: Malam ini adalah malam yang pas untuk mulai bersyukur, untuk mulai bertepuk tangan kepada diri sendiri atas segala pencapaian, dan juga untuk tersesat dan melantur. Hehehe

Oh ya btw juga. Ini udah diujung longweekend, janjinya kemarin mau membabat habis deadline yang udah di ujung tanduk biar bisa fokus dan nyaman ngerjain urusan yang lain.

Ah harus cepet – cepet back on track nih.

*kamu sekali lagi benar Pi, walaupun hoream, jangan pernah suudzon sama Alloh. Hehehe. Selalu Alhamdulillah tiada henti ya..

  1. Postingan sebelumnya Jika Ada Yang Namanya Resolusi Ramadhan ↩︎

Jika Ada Yang Namanya Resolusi Lebaran

SIAPAPUN TAHU: Malam lebaran adalah malam kemenangan, saat takbir dikumandangkan dimana – mana, berbagai salam dan ucapan mengalir deras tak terkira. Malam kemenangan yang tak boleh dilewatkan.

Dan jika memang ada sesuatu yang dinamakan “resolusi lebaran”. Lebaran kali ini resolusinya tetep sama seperti lebaran tahun kemaren, dan tahun kemarennya lagi: Pengen menjadi orang yang pandai bersyukur, menjadi orang yang pandai bersyukur saja sudah cukup, sekarang udah ga pengan yang lain lagi.

Setelah Isya tadi sempet lihat keluar jendela, ada ponakan – ponakan nyebrang jalan, berlarian ke mesjid sambil mengumandangkan takbir.

Kok rasanya sedih yak…Kayak ada sesuatu yang masih menganga di hati, tapi tidak tahu di hati yang sebelah mana?

Mamen, I’m very mature for my age, but also have erronous in lot of ways. Dan salah satunya dalam hal “bersyukur’ ini. Huks

Nb: Semoga kamu nanti bisa menutupi celah ini ya Pi. Hehehe

Menjadi Murakami

Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang. Sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Haruki Murakami.