Corat Coret Di Warung Kopi

IMG 20180316 185809 HDR 01
2015, adalah tahun pertama saya kembali ke rumah, rumah dalam artian yang sebenarnya. Langsung mencari satu tempat enak untuk menyelesaikan bermacam – macam urusan, warung kopi.

Ditempat yang dipenuhi wangi – wangi biji kopi, lagu – lagu, gelas kecil yang gampang kosong, asbak yang kepenuhan, selalu bisa berbicara: Kamu bisa menunda untuk berubah karena banyaknya urusan, tapi hidup tidak pernah menunda urusan – urusannya.

Warung kopi juga seringkali, bisa jadi tempat saya berhenti mengambil jeda dan merefleksi diri: Apakah benar kamu sudah berubah? Apakah kamu telah yakin dengan, atau terhadap sesuatu? Atau kamu ter-yakin-kan hanya karena sesuatu itu telah dilabeli “baik” oleh keadaan? Oleh para ‘kritikus’? Apakah kamu berani bertanggung jawab atas penilaianmu itu? Apakah kamu tidak sedang terkungkung oleh dunia yang sekarang hampir semuanya berbicara tentang “Image”?

Btw, baru – baru ini saya sering membawa serta Paria-nya Mulk Raj Anand ke warung kopi. Jika ada buku yang ingin dibaca oleh seseorang yang sedang mencari cara agar lebih pandai bersyukur 1. Mungkin inilah salah satu buku itu.

b972b19a1738002b49beeb141a832308

“Dia terlihat sebagai anak paria tulen dari koloni yang tidak memiliki parit, lampu ataupun air; Anak dari rawa di mana orang – orang bermukim di antara kakus – kakus orang kota dan ditengah – tengah tahi mereka sendiri, yang berserakan di sana, di sini, di mana – mana. Anak dari sebuah dunia dimana siang adalah gelap, dan malam adalah gelap yang pekat.”

Membaca Bakha, melihat – lihat produk budaya lain: Malam ini adalah malam yang pas untuk mulai bersyukur, untuk mulai bertepuk tangan kepada diri sendiri atas segala pencapaian, dan juga untuk tersesat dan melantur. Hehehe

Oh ya btw juga. Ini udah diujung longweekend, janjinya kemarin mau membabat habis deadline yang udah di ujung tanduk biar bisa fokus dan nyaman ngerjain urusan yang lain.

Ah harus cepet – cepet back on track nih.

*kamu sekali lagi benar Pi, walaupun hoream, jangan pernah suudzon sama Alloh. Hehehe. Selalu Alhamdulillah tiada henti ya..

  1. Postingan sebelumnya Jika Ada Yang Namanya Resolusi Ramadhan ↩︎